Polantas Tabrak Nenek Renta di Medan Viral Jadi Sorotan Publik – Sebuah video mengejutkan viral di media sosial pada Senin (20/7), memperlihatkan seorang nenek renta tertabrak motor dinas polisi lalu lintas (Polantas) di sebuah ruas jalan padat di Kota Medan, Sumatera Utara. Dalam video berdurasi 30 detik itu, terlihat seorang anggota Polantas mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang, namun gagal menghindari seorang nenek yang sedang menyeberang jalan dengan tertatih-tatih.
Peristiwa ini terjadi di kawasan Jalan Sisingamangaraja, salah satu ruas jalan tersibuk di Medan. Nenek tersebut di ketahui bernama Mak Tun (72), warga sekitar yang sehari-hari mencari nafkah dengan menjajakan keripik singkong di trotoar jalan.
Video Viral, Warganet Geram
Dalam hitungan jam, video tersebut menyebar luas di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan X (dulu Twitter). Warganet mengecam kelalaian petugas, yang di nilai tidak waspada dan kurang memperhatikan keselamatan pejalan kaki, terlebih seorang lansia.
Tagar #NenekMedan dan #PolantasTabrak menjadi trending topic nasional, di sertai slot88 resmi ribuan komentar pedas dari netizen yang meminta pertanggungjawaban dari pihak kepolisian. Banyak yang menilai aparat harus lebih berhati-hati, apalagi ketika berada di ruang publik yang padat.
Baca juga: Al Waleed Tutup Usia Setelah Bertahun-tahun dalam Koma
Kondisi Korban: Luka Ringan, Tapi Trauma
Mak Tun langsung di larikan ke rumah sakit terdekat usai kejadian. Menurut keterangan dari pihak RSU Pirngadi Medan, korban mengalami luka ringan pada bagian tangan dan lutut, namun tidak mengalami cedera berat. Yang menjadi perhatian adalah trauma psikologis yang di rasakan korban.
“Beliau syok dan masih ketakutan. Kami akan melakukan observasi psikologis juga,” ujar dr. Widia, dokter jaga di RSU tersebut.
Sementara itu, keluarga Mak Tun menyampaikan bahwa sang nenek kini memilih untuk tidak keluar rumah dulu karena ketakutan.
Polda Sumut Ambil Langkah Tegas
Menanggapi viralnya peristiwa ini, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi langsung menginstruksikan Propam untuk turun tangan menyelidiki kejadian tersebut. Petugas yang terlibat dalam insiden itu, Briptu JF, langsung di periksa secara intensif oleh Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sumut.
“Kami tidak akan menolerir tindakan yang mencederai kepercayaan masyarakat. Anggota kami akan di periksa dan di berikan sanksi bila terbukti lalai,” ujar Irjen Agung dalam konferensi pers Selasa pagi (21/7).
Pihak Polda juga menyatakan bahwa akan memberikan bantuan medis dan dukungan kepada korban. “Kami telah menjenguk korban dan akan memastikan seluruh kebutuhan medisnya di tanggung,” tambahnya.
Klarifikasi dari Polantas yang Menabrak
Briptu JF akhirnya memberikan klarifikasi melalui media internal kepolisian. Ia mengaku saat itu sedang dalam perjalanan menuju lokasi pengaturan lalu lintas yang sedang padat akibat kecelakaan ringan.
“Saya tidak melihat ibu tersebut karena tertutup kendaraan di jalur sebelah. Saya sangat menyesal dan langsung membawa beliau ke rumah sakit,” kata Briptu JF dengan suara bergetar.
Ia juga menyatakan siap menerima segala bentuk sanksi dari institusi dan berharap bisa meminta maaf langsung kepada korban dan keluarganya.
Sorotan pada Keselamatan Pejalan Kaki
Insiden ini membuka kembali di skusi publik tentang keselamatan pejalan kaki di mahjong slot Indonesia. Banyak warganet dan pengamat transportasi yang menilai bahwa perlindungan terhadap lansia di jalan raya masih sangat minim. Fasilitas penyeberangan yang aman, seperti zebra cross atau lampu penyeberangan, kerap kali di abaikan atau tidak tersedia di tempat-tempat penting.
Pakar transportasi dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Fahrizal Nasution, menyatakan bahwa kejadian ini harus di jadikan momentum evaluasi. “Kita perlu memperkuat edukasi dan kontrol terhadap semua pengguna jalan, termasuk aparat negara,” jelasnya.
Penutup: Harapan untuk Perubahan
Kejadian tabrakan antara Polantas dan nenek renta ini menyisakan duka sekaligus pelajaran besar. Di tengah arus kendaraan yang padat dan cepat, keselamatan pejalan kaki—terutama kelompok rentan seperti lansia—harus menjadi prioritas.
Semoga insiden ini bisa membuka mata semua pihak, baik aparat maupun masyarakat umum, bahwa keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama. Kepolisian di harapkan tidak hanya menjadi penegak aturan, tetapi juga contoh nyata dalam menjaga etika berkendara di ruang publik.
